Hosting Unlimited Indonesia

Metode Eksperimen untuk Penelitian Kuantitatif

Tidak sedikit penelitian yang ada menggunakan penelitian kuantitatif. Sebagian orang memiliki penelitian kuantitatif karena senang berhitung, malu malas melakukan observasi atau wawancara dan bisa juga terjadi karena karakteristik variabel penelitian diharuskannya menggunakan kuantitatif. Sangat banyak desain penelitian kuantitatif yang disarankan oleh ahli metodologi penelitian ilmiah. Namun, desain eksperimen adalah metode penelitian kuantitatif yang banyak dilakukan oleh para peneliti dan mahasiswa dalam melaksanakan penelitian mereka. Ataukah Anda bahwa ada tiga jenis metode penelitian eksperimen ?. Mari simak sedikit penjelasan mengenai desain eksperimental di bawah ini.
Secara singkat metode eksperimen adalah penelitian dilkaksanakan di kelas atau sampel epneleitian dengan diberikannya perlakuan khusus untuk terjadinya kondisi dan keadaan yang baru setelah perlakuan tersebut. dalam penelitian eksperimen yang dilakukan oleh peneliti yaitu merancang penelitian secara terurut, sistematis dari setiap kejadian dalam penelitian, dan selalu mengamati dengan seksama atas perubahan yang telah terjadi setelah diadakannya perlakuan khusus. Faktor internal dan eksternal dalam penelitian eksperimen perlu mendapatkan perhatian khusus, hal ini untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut sudah valid atau belum. Contohnya penelitian eksperimen untuk mengetahui perbedaan , apakah terdapat variabel di luar yang berpengaruh dan  bagaimana perubahan sebab akibat dapat digeneralisasikan untuk hasil studi di waktu mendatang, dan berlaku untuk orang yang berbeda?. Tentunya dalam penelitian eksperimen yang secara cermat dilakukan peneliti ialah mengamati dan memberikan informasi terkait faktor internal dan eksternal terhadap penelitian eksperimentalnya.
Terdapat tiga jenis metode eksperimen yang dapat digunakan untuk penelitian. Tiga metode desain yang dipilih memiliki karakteristik untuk mengendalikan antara variabel bebas dan terikat dalam suatu penelitian. Ketiga metode eksperimen tersebut ialah para-eksperimen, eksperimen semu dan eksperimen penuh.
Metode desain Pra-Eksperimen
Dalam metode yang pertama ini, memiliki karakteristik bahwa subjek penelitian adalah terdiri dari satu sampel dari populasi, dengan kata lain tidak adanya kelompok kontrol. Metode desain Pra-Eksperimen merupakan penelitian yang memfokuskan pada akibat dari perlakuan khusus dalam penelitian. Sedangkan dalam desain eksperimen semu dan eksperimen penuh malah sebaliknya, fokus penelitian tidak hanya pada satu kelompok penelitian saja karena adanya kelompok kontrol.
Salah satu desain para-eksperimen atau quasi eksperimen yang sederhana seperti berikut ini.
X -> O
X adalah perlakuan atau manipulasi tindakan terhadap variabel bebas
O adalah pengamatan atau pengukuran terhadap variabel terikat
Dalam hal ini penelitian memfokusnya untuk mengamati dan mengukur perubahan suatu kondisi setelah terjadinya tindakan khusus. Desain pra-eksperimen sebenarnya memiliki kelemahan jika digunakan sebagai desain penelitian, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Desain pra-eksperimen memiliki keterbatasan atau kelemahan dalam menarik kesimpulan penelitian, hal ini dikarenakan tidak adanya kelompok kontrol, tidak dilakukan pengendalian terhadap variabel lain dan validitas internet tidak terjadi. Perubahan yang terjadi dalam kelompok eksperimen sebenarnya bisa saja terjadi pada suatu kelompok yang ternyata tidak diberi perlakuan khusus, oleh sebab itu perlu membuktikannya dengan mengadakan kelompok kontrol untuk memastikan adakah perbedaan hasil kondisi. Hasil yang diambil dari desain pra-eksperimen tidak mengendalikan faktor lainnya sehingga yang dikhawatirkan adalah tidak dapat menjelaskan sebab perubahan terjadi pada suatu kelompok yang mungkin saja karena adanya faktor lainnya.


Silakan share dan ketikkan komentar setelah selesai membaca artikel ini.
Isikan email Anda untuk menjadi pelanggan setia website ini dan akan kami kirimkan artikel terbaru langsung ke email.
loading...

Inilah Ciri Sampel Penelitian yang Baik Menurut Ahli


Sampel yang baik adalah sampel yang dapat merepresentasikan populasi, dengan kata lain sampel
yang baik adalah sampel yang memiliki aspek validitas. Adapun validitas sampel ditentukan dua hal yaitu: ketelitian dan tingkat presisi (Wahyuni, 1994). Sementara Cooper, Schindler (2001), mengemukakan sampel yang baik adalah sampel yang memiliki akurasi dan presisi.
Pertama ketelitian. Sampel yang memiliki tingkat ketelitian sangatlah dibutuhkan untuk dapat menghindari pembiasan, sampel yang tidak membias akan memberikan keseimbangan diantara anggota sampelnya. Artinya apabila satu sisi terjadi overestimate, di sisi lain akan ada yang underestimate dengan demikian akan terjadi keseimbangan diantara anggotanya. Sampel yang membias akan terjadi systematic variance yakni suatu penyimpangan dalam pengukuran yang akan mempengaruhi skor secara keseluruhan. Ketika populasi heterogen maka penetapan sampel haruslah memperhatikan seluruh elemen populasi tersebut. Hal yang senada dengan ketelitian adalah akurasi yang dikemukakan oleh Cooper, Schindler.
Kedua, tingkat presisi. Selain memperhatikan ketelitian dalam penetapan sampel juga harus memperhatikan tingkat presisi. Maksudnya adalah rendahnya tingkat kesalahan estimasi. Pada hakikatnya sampel tidak ada yang dapat sepenuhnya (100%) dapat mewakili populasi. Nilai statistik sampel mungkin berbeda dari nilai parameternya sebagai hasil dari  uktuasi random dalam proses pengambilan sampel. Penyimpangan seperti ini disebut error variance atau sampling error. Secara teoretik sampling error ini hanya kesalahan karena  uktuasi random, sekalipun tanpa disadari mungkin juga termasuk error variance. Tinggi rendahnya tingkat presisi ditunjukkan oleh besar kecilnya standard error of estimate artinya semakin kecil estimasi standar error menunjukkan semakin tinggi tingkat presisi sampel.
Apabila populasi homogen penetapan sampel tidak terlalu persoalan, akan tetapi jika populasi heterogen maka penetapan sampel harus dipertimbangkan dengan memperhatikan minimal dua hal (Zuriah, 2006) yaitu: 
1. Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas. Ketika populasi heterogen maka perlu dipahami berbagai kategori yang ada, selanjutnya berbagai kategori tersebut hendaknya terwakili dalam penetapan sampel.
2. Besarnya populasi dalam tiap kategori. Jumlah sampel dalam setiap kategori juga perlu dipertimbangkan secara proporsional, kategori yang jumlahnya besar seyogyanya sampelnya juga lebih besar.


loading...

Apa Itu Metode Penelitian Deskriptif ?...


Penelitian deskriptif salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk menyajikan gambaran yang lengkap mengenai seting sosial. Dalam hal  ini peneltian ini akan mengeksplorasi dan mengklari kasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial
dengan jalan menggambarkan sejumlah variabel yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diamati. Dalam penelitian ini, sudah harus dide nisikan variabel penelitian dan menjawab pertanyaan siapa yang akan menggali informasi yang dibutuhkan. Pada dasarnya tujuan penelitian deskriptif adalah dapat menghasilkan gambaran yang akurat tentang fenomena yang diteliti, menggambarkan proses yang terjadi, menyajikan berbagai informasi penting tentang variabel tersebut. Metode deskriptif disebut juga survey, di mana metode ini umumnya selain menggambarkan suatu  fenomena, juga berusaha menggambarkan hubungan, menguji hipotesis, memprediksi serta melihat implilkasinya. Jenis penelitian deskriptif dapat dilakukan dengan metode survey; metode deskriptif berkesinambungan; studi kasus; analisis pekerjaan; penelitian tindakan; dan penelitian perpustakaan.
Metode deskriptif disebut juga metode survey, di mana metode ini umumnya selain menggambarkan
suatu fenomena; juga berusaha menggambarkan hubungan, menguji hipotesis, memprediksi serta melihat implikasinya.
Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik:
1. Penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah
secara teratur dan ketat dengan mengutamakan objekti tas, dilakukan dengan cermat.
2. Tidak ada perlakuan yang dilakukan. Penelitian deskriptif hanya mendeskripsikan suatu fenomena apa adanya, oleh karenanya dalam penelitian ini tidak ada perlakukan apapun.
3. Merumuskan dan menguji hipotesis. Dalam penelitian deskriptif diajukan rumusan hipotesis, yang dapat dijadikan sebagai panduan dan hipotesis tersebut akan diuji kebenarannya.
4. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara dengan menggunakan instrumen yang dipersiapkan atau dapat juga melalui pedoman wawancara.



loading...

Tinjauan Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Pada postingan ini saya ingin membagikan perbedaan penelitian kualitatid dan kuantitatif. Karena banyak perbedaan diantara keduanya yang sering menjadi bahan diskusi dikalangan mahasiswa semoga artikel ini bermanfaat.
Pada artikel ini akan dijelaskan perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif berdasarkan aspek maksud, tujuan, pendekatan, asumsi dan model.

Aspek Maksud
Kuantitatif ditinjau dari aspek maksud yakni membuat deskipsi objektif tentang fenomena terbatas dan menetukan apakah fenomena dapat dikontrol melalui beberapa intervensi. Kualitatif ditinjau dari aspek maksud yakni mengembangkan pengertian tentang individu dan kejadian-kejadian dengan memperhitungkan konteks yang relevan.
Aspek Tujuan
Kuantitatif ditinjau dari aspek tujuan adalah menjelaskan, meramalkan, dan/atau mengontrol fenomena melalui pengumpulan data terfokus dari data numerik. Kualitatif ditinjau dari asepk tujuan adalah memahami fenomena sosial melalui gambaran holistik dan memperbanyak pemahaman mendalam.
Aspek Pendekatan
Kuantitatif ditinjau dari aspek pendekatan yaitu menjelaskan penyebab fenomena sosial melalui pengukuran objektif dan analisis numerikal. Kualitatif ditinjau dari aspek pendekatan berasumsi bahwa ‘subject matter’ suatu ilmu sosial adalah amat berbeda dengan ’subject matter’ dari ilmu fisik/alamiah dan mempersyaratkan tujuan yang berbeda untuk inkuiri dan seperangkat metode penyelidikan yang berbeda. Induktif, berisi-nilai (subjektif), holistik dan berorientasi proses.
Aspek Asumsi
Kuantitatif  ditinjau dari aspek asumsi yaitu berasumsi bahwa tujuan dan metode ilmu sosial adalah sama dengan ilmu fisik/alamiah dengan jalan mencari teori yang dites atau dikonfirmasi yang menjelaskan fenomena. Deduktif, bebas-nilai (objektif), terfokus, dan berorientasi-tujuan. Kualitatif ditinjau dari aspek asumsi yakni perilaku terkait konteks dimana hal itu terjadi dan kenyataan sosial tidak bisa direduksi menjadi variabel-variabel sama dengan kenyataan fisik. Berupaya mencari pemahaman tentang kenyataan dari segi perspektif ‘orang dalam’, menerima subjektivitas dari peneliti dan pemeran-serta.
Aspek Model
Kuantitatif ditinjau dari aspek model yaitu penemuan ‘fakta’ sosial tidak berasal dari persepsi subjektif dan terpisah dari konteks. Kualitatif ditinjau dari aspek model yakni upaya generalisasi tidak dikenal Karena perilaku manusia selalu terkait konteks dan harus diinterpretasiakan kasus per kasus.

Terima kasih telah berkunjung
Jangan lupa berkomentar yang baik sebelum meningalkan halaman ini

Referensi
Prof. Dr. Lexy J. Moleong, M.A. 2012. Metodologi Peneletian Kualitatif.  Bandung: Rosdakarya.