Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian Open Ended (OE)

Model Pembelajaran Open Ended (OE)

A.    Pengertian Model Pembelajaran Open Ended
Pembelajaran Open Ended atau pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka ialah pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan berbagai cara pemecahan/penyelesaian masalah dan solusinya pun beragam. Pembelajaran ini melatih kreatifitas, berfikir kritis, komunikasi-interaksi, sharing dan keterbukaan (Suyatno, 2009 : 62).
Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan Open-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Open Ended  merupakan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik. Pembelajaran ini lebih mengutamakan proses dibandingkan produk sehinggga siswa pun dirangsang untuk terbuka, berfikir yang beragam, dan  dituntut melakukan variasi dalam memperoleh jawaban. Kemudian Siswa tersebut diminta untuk menjelaskan proses pencapaian jawaban tersebut.
Tujuan pembelajaran melalui pendekatan open-ended menurut Nohda (Erman Suherman dkk, 2003:124) yaitu untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif  dan pola pikir matematis siswa melalui problem solving secara simultan. Dengan kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap peserta didik agar aktivitas kelas yang penuh ide-ide matematika memacu kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik.
Selain itu ada beberapa tujuan lain yang dapat ditargetkan, yaitu:  (1) saling bertukar pikiran dengan siswa lain mengenai metode pemecahan yang digunakan masing-masing, (2) membandingkan dan menguji beberapa gagasan yang berbeda, (3) memodifikasi atau mengembangkan gagasan-gagasan yang ada.
Pendekatan open-ended menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa dapat terkomunikasikan melalui proses belajar mengajar. Pokok pikiran dari pembelajaran dengan open-ended yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Dengan kata lain pembelajaran matematika dengan pendekatan open-ended bersifat terbuka (Ngalimun, 2012 : 162).
Contoh penerapan problem open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan bukan berorientasi pada jawaban akhir. Dihadapkan dengan problem open-ended  siswa tidak hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Pembelajaran dengan pendekatan open-ended biasanya dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran membawa siswa dalam menjawab pertanyaan dengan banyak cara dan mungkin juga dengan banyak jawaban sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam menemukan sesuatu yang baru.

B.    Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Open Ended
Pendekatan open-ended prinsipnya sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Bedanya Problem yang disajikan memiliki jawaban benar lebih dari satu. Problem yang memiliki jawaban benar lebih dari satu disebut problem tak lengkap atau problem open-ended atau problem terbuka.
Sifat keterbukaan dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut.
Adapun prinsip keterbukaan masalah menurut Haryani (dalam Euis, 2012 : 30) diklasifikasikan dalam tiga tipe, yaitu:
Menurut Shimada (1997:1) pendekatan open-ended problem adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Pendekatan open-ended problem dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan/pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik. Pendekatan open-ended problem dapat dilakukan dengan cara memadukan pengetahuan, yang sedang dan telah dipelajari siswa. Dalam menyelesaikan masalah, kebenaran menyelesaikan tidak hanya bergantung pada hasil akhir, tapi juga bergantung pada proses yang dilaluinya dalam menemukan penyelesaian tersebut.
Prosesnya terbuka;
Maksudnya masalah atau soal yang diberikan itu memiliki banyak cara penyelesaian yang benar.
Hasil akhir terbuka;
Maksudnya masalah itu memiliki banyak jawaban yang benar.
Cara pengembangan lanjutan terbuka;
Maksudnya ketika siswa telah menyelesaikan masalahnya, mereka dapat mengembangkan masalah baru yaitu dengan cara merubah kondisi masalahnya.
Sedangkan Suherman, dkk (2003) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut :
Kegitan siswa harus terbuka. Yang dimaksud adalah kegiatan siswa harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir. Kegiatan matematika adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya.
Kegiatan siswa atau kegiatan matematika merupakan satu kesatuan. Dalam pembelajaran matematika, guru diharuskan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatan-kegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah. Pendekatan uniteral semacam ini dapat dikatakan terbuka terhadap kebutuhan siswa ataupun terbuka terhadap ide-ide matematika. 

C.    Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran Open Ended

Menurut Suherman, dkk (2003 : 121) pembelajaran berbasis open-ended memiliki lima kelebihan untuk para siswa di sekolah, diantaranya :
1. Para siswa terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran dan mereka dapat mengungkapkan ide-ide mereka secara lebih sering. Para siswa tak hanya pasif menirukan cara yang dicontohkan gurunya.
2. Para siswa mempunyai kesempatan yang lebih dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika mereka secara menyeluruh. Mereka terlibat lebih aktif dalam menggunakan potensi pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya.
3. Setiap siswa dapat menjawab permasalahan dengan caranya sendiri. Ini artinya, tiap kreativitas siswa dapat terungkapkan.
4. Pembelajaran dengan menggunakan open-ended problems semacam ini memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam proses bernalar.
5. Ada banyak pengalaman-pengalaman (berharga) yang akan didapatkan siswa dalam bentuk kepuasan dalam proses penemuan jawaban dan juga mendapat pengakuan dari siswa-siswa lainnya.
Disamping kelebihan, menurut Suherman, dkk (2003 : 121) terdapat pula kelemahan pembelajaran open ended, diantaranya :
1.    Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan yang mudah.
2.    Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
3.    Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
4.    Mungkin terdapat beberapa siswa yang merasa kegiatan pembelajaran ini tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi. 



Referensi:
Ngalimun. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin : Scripta Cendekia
Erman Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA UPI
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo : Masmedia Buana Pustaka
Adrian S Loedji, Willa. 2008. Matematika Bilingual untuk SMA Kelas XI IPA. Bandung : Yrama Widya
Istiqomah, Euis. 2012. Analisis Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Open Ended dan Disposisi terhadap Karakternya. Skripsi.
Shimada, S. & Becker, P., 1997.  The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. NY:  NCTM
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Ali Mahmudi, S.Pd


loading...

APLIKASI MODEL DEBATE DALAM PEMBELJARAN

Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. (wikifedia.com/pengertian debat)
Berdasarkan beberapa kajian dan kasus yang dihadapi padaberbagai kondisi, dapat disimpulkan bahwa debat memiliki pengertian sebagai berikut:
a. Debat adalah kegiatan argumentasi antara dua pihak atau lebih,baik secara individual maupun kelompok dalam mendiskusikan dan memecahkan suatu masalah. Debat dilakukan menuruti aturan-aturan yang jelas dan hasil dari debat dapat dihasilkan melalui voting atau keputusan juri.
b. Debat adalah suatu diskusi antara dua orang atau lebih yang berbeda pandangan, dimana antara satu pihak dengan pihak yang lain saling menyerang (opositif).
c. Debat terjadi dimana unsur emosi banyak berperan. Pesertanya kebanyakan hanya hendak mempertahankan pendapat masing-masing dibandingkan mendengar pendapat dari orang lain dan berkehendak agar peserta lain menyetujui pendapatnya. Oleh karena itu, dalam debat terdapat unsur pemaksaan kehendak.
d. Debat adalah aktivitas utama dari masyarakat yang mengedepankan demokratik.
e. Sebuah kontes antara dua orang atau grup yang mempresentasikan tentang argumen mereka dan berusaha untuk mengembangkan argumen dari lawan mereka.
C.    Model Pembelajaran Debat
Pada tingkat sekolah menengah atas, pola pikir siswa harus mulaidibangun membentuk karakter yang kritis dan cepat tanggap terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Biasanya, ketika siswa diajak memecahkan suatu kasus permasalahan yang menuntut sebuah keputusan untuk diambil, akan terbagi menjadi 3 buah kubu. Siswa kubu pendukungsuatu keputusan (biasanya disebut kelompok Pro), siswa kubu penolak (kelompok Kontra), dan kubu netral yang mengambil sikap “cari aman” dengan tidak memilih pihak manapun.Dengan pembelajaran metode debat, siswa dibentuk menjadi hanyadua jenis kelompok yaitu Pro dan Kontra. Berikut ini adalah langkah-langkah debat yang biasanya diterapkan di kelas dalam lingkup sekolah menengah atas:



1.    Guru membagi siswa menjadi dua kelompok peserta debat, yangsatu pro dan yang lainnya kontra.
2.    Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akandiperdebatkan oleh kedua kelompok di atas.
3.    Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggotakelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian setelah selesaiditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampaisebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4.    Sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulisinti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlahide yang diharapkan.
5.    Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkapkan.
Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yangingin dicapai.Dengan adanya acuan teknis diatas, dapat dilihat bahwa modeldebat mengadopsi gabungan dari beberapa metode pembelajaran seperti Diskusi, Ceramah, dan Pembelajaran Kooperatif.
D.    Debat Sebagai Turunan Pembelajaran Kooperatif
Model debat merupakan turunan dari metode kooperatif. Metode yang namanya diambil dari kata serapan bahasa Inggris “cooperative” menjabarkan bahwa pembelajaran tipe ini mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:( Trianto,2009: 80)
    Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama.
    Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,sedang, dan rendah.
    Jika dalam kelas terdapat siswa heterogen dari kategori ras, suku,budaya, dan jenis kelamin, maka diusahakan setiap kelompok yangdibuat terdapat keheterogenan tersebut.
    Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.




Disamping itu, pembelajaran Kooperatif memiliki tujuansebagai berikut:
    Untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas akademik.
    Mendorong kerukunan sosial terhadap keragaman, dalam artiansiswa dapat menerima teman-temannya yang memiliki bermacamlatar belakang.
    Pengembangan keterampilan sosial dengan cara berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing temanuntuk bertanya, mau mengungkapkan ide/pendapat, dan bekerjadalam kelompok.